Torayapos.co.id-Toraja Utara,– Bupati Toraja, Frederik Victor Palimbong mengajak mahasiswa Arsitektur Universitas Hasanuddin (Unhas) Fakultas Teknik, untuk melihat langsung implementasi desain Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPARDA Toraja Utara 2015–2030 serta dinamika pembangunan wilayah yang ada di Toraja Utara.
Hal tersebut disampaikan saat dirinya menerima kunjungan mahasiswa Arsitektur Universitas Hasanuddin Fakultas Teknik di Aula Kantor Dinas Perpustakaan Toraja Utara, baru-baru ini.
Dalam kesempatan itu, bupati memperkenalkan sejumlah alumni Universitas Hasanuddin yang saat ini berperan penting dalam pembangunan daerah, baik di bidang tata ruang, pariwisata maupun pengembangan geopark yang tengah diusulkan ke tingkat nasional dan UNESCO.
Bahkan, bupati membagikan pengalaman pribadinya di depan mahsiswa mengenai perjalanan pendidikannya serta karier profesionalnya di sektor pertambangan sebelum dirinya menjabat sebagai wakil bupati hingga menjadi bupati Toraja Utara saat ini.
Bupati secara terbuka menyoroti tantangan Toraja Utara sebagai kabupaten termuda di Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah sering berpindahnya lokasi kantor bupati sehingga berdampak pada keberlanjutan tata kelola pemerintahan.
Namun katanya, pemerintah saat ini (di bawah kepemimpinannya, red), berkomitmen memastikan pembangunan kantor pemerintahan permanen yang akan berlokasi di Kecamatan Rantepao sebagai ibu kota kabupaten, dan pemerintah daerah telah mengajukan perencanaannya ke Bappenas.
Lanjutnya, gedung kantor sebelumnya (kantor bupati, wakil bupati dan OPD) yang berada di Marante, Kecamatan Tondon, kini dialihfungsikan menjadi rumah sakit daerah (pembangunannya sedang berlangsung) dalam Program Hasil Terbaik dan Cepat (PHTC) Pemerintah Pusat, sehingga untuk sementara aktivitas pemerintahan dilaksanakan di kantor sementara.
Hal lain disampaikan, bupati mengajak mahasiswa untuk memahami kekayaan budaya Toraja, terutama arsitektur Tongkonan sebagai identitas masyarakat. Tongkonan tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga pusat pelaksanaan upacara adat serta simbol kekerabatan yang diwariskan turun-temurun.
“Tongkonan dibangun tanpa menggunakan paku, dan para tukang bekerja berdasarkan keterampilan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Inilah kekhasan arsitektur Toraja yang patut dipelajari,” jelasnya.
“Saya berharap study lapangan ini dapat menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam memahami kearifan lokal, arsitektur tradisional, dan tantangan penataan ruang di Toraja Utara,” harap bupati diakhir sambutannya.
Sementara dosen pendamping mahasiswa Arsitektur Universitas Hasanuddin, Edward Syarif didampingi sejumlah dosen lainnya, mengatakan bahwa Toraja Utara memiliki potensi besar dalam bidang arsitektur dan tata ruang, sehingga banyak mahasiswa menjadikan daerah ini (Toraja) sebagai objek studi sekaligus bentuk pengabdian kepada masyarakat.
“Melihat potensi di Toraja, banyak mahasiswa mengambil tema penelitian di Kabupaten Toraja Utara sebagai kontribusi akademik yang bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan daerah,” ujar Edward. (yoel).





Komentar